Perhitungan Harga Pokok Berdasarkan Aktivitas

 


Perhitungan Harga Pokok Berdasarkan Aktivitas

 

1.      Sistem Tradisional

2.      Sistem ABC

3.      Contoh Kasus

 

1.      Sistem Tradisional

Kholmi dan Yuningsih (2004:27) menjelaskan bahwa sistem akuntansi biaya tradisional hanya memusatkan pada ukuran output aktifitas yang didasarkan pada volume produksi. Pendekatan tradisional mengasumsikan bahwa semua biaya dapat diklasifikasikan sebagai biaya tetap dan variabel sesuai dengan perubahan unit atau volume produk yang diproduksi. Carter terjemahan Krista (2009:532) menjelaskan bahwa sistem perhitungan biaya tradisional ditandai oleh penggunaan ukuran yang berkaitan dengan volume atau ukuran tingkat unit sebagai dasar untuk mengalokasikan overhead ke output. Oleh karena itu, sistem tradisional juga disebut dengan sistem berbasis unit (unitbased system). Hansen dan Mowen terjemahan Fitriasari dan Kwary (2006:159) menjelaskan bahwa perhitungan biaya berdasarkan tradisional, membebankan bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung dengan menggunakan penelusuran langsung. Biayan Overhead dibebankan melalui proses dua tahap sebagai berikut:

a.       Biaya overhead dikumpulkan dalam kelompok, baik pada tingkat pabrik atau tingkat departemen.

b.      Setelah kelompok didefinisikan, biaya kelompok overhead dibebankan ke produk dengan menggunakan penggerak tingkat unit, yang paling umum yaitu dengan menggunakan tenaga kerja langsung atau jam mesin.

Keterbatasan Sistem Akuntasi Tradisional

Seringkali organisasi mengalami hal-hal tertentu yang mengindikasikan bahwa sistem akuntansi biaya sudah ketinggalan jaman, contohnya:

a)     -  Hasil dari penawaran bisnis sulit dijelaskan

b)      - Harga pesaing tampak begitu rendah dan tidak masuk akal

c)      - Produk-produksi yang memiliki tingkat kesulitan tinggi menunjukkan laba yang tinggi

d)    -  Manajer operasional ingin menghentikan produksi dari produk-produknya yang tampaknya menguntungkan

e)     -  Marjin laba sulit untuk dijelaskan

f)     - Perusahaan memiliki ceruk pasar yang nampaknya hanya memberi laba tinggi pada perusahaan sendiri

g)     -  Pelanggan tidak mengeluh atas kenaikan harga produk-produk khusus

h)      - Departemen akuntansi menghabiskan banyak waktu untuk memberikan data biaya bagi produk khusus

i)       -  Beberapa departemen menggunakan sistem akuntansinya sendiri

j)        - Biaya produk berubah karena perubahan peraturan pelaporan keuangan

Ada dua faktor utama yang menyebabkan kegagalan sistem biaya tradisional:

1.)    Menggunakan hanya penggerak biaya aktivitas berdasar unit untuk membebankan biaya overhead yang tidak berkaitan dengan unit akan menimbulkan distorsi biaya produk. Padahal ada banyak penggerak biaya aktivitas berdasarkan non unit (non unit based activity cost driver) yang berperan dalam konsumsi biaya overhead, antara lain: penerimaan pesanan, set up, rekayasa teknik, inspeksi, dll.

2.)    Adanya keragaman produk (product diversity) yang berarti bahwa masingmasing produk mengkonsumsi aktivitas overhead dalam proporsi yang berbeda.

 

2.      Activity Based Costing (ABC)

Activity Based Costing (ABC adalah metode perhitungan biaya yang dirancang untuk menyediakan informasi biaya bagi manajer untuk keputusan strategis dari keputtusan lainnya sebagai pelengkap, bukan sebagai pengganti, sistem biaya yang biasa dipakai perusahaan. Sistem biaya berdasarkan aktivitas menelusuri biaya aktivitas dan kemudian ke produk. Tidak seperti sistem tradisional, ABC menekankan penelusuran langsung dan penelusuran penggerak dengan menekankan hubungan sebab akibat. ABC menggunakan penggerak biaya aktivitas berdasarkan unit maupun non unit.  Tujuan Activity Based Costing adalah untuk mengalokasikan biaya ke transaksi dari aktivitas yang  dilaksanakan dalam suatu organisasi, dan kemudian  mengalokasikan  biaya tersebut secara tepat ke produk sesuai dengan pemakaian aktivitas setiap produk.

Ada dua prosedur yang digunakan untuk menerapkan Activity Based Costing (ABC) , yaitu:

Prosedur Tahap I:

1.)    Identifikasi aktivitas

2.)    Biaya-biaya dibebankan ke aktivitas

3.)    Aktivitas yang berkaitan dikelompokkan untuk membentuk kumpulan sejenis yang: (a) secara logika berkolerasi dan (b) memiliki rasio konsumsi yang sama untuk setiap produk

4.)    Biaya aktivitas yang dikelompokkan dijumlah untuk mendefinisikan kelompok biaya sejenis

5.)    Tarif overhead kelompok dihitung

Prosedur tahap II: biaya dari setiap kelompok overhead ditelusur ke produk

Keterbatasan Sistem Activity Based Costing (ABC)

A.    Alokasi

Walaupun tersedia data aktivitas, beberapa biaya kemungkinan membutuhkan alokasi ke departemen dan produk berdasarkan ukuran volume arbitrer karena pencarian aktivitas yang menyebabkan timbulnya biaya mungkin tidak akan praktis.

B.     Penghilangan biaya.

Beberapa biaya yang diidentifikasi dengan produk tertentu dihilangkan dari analisis. Aktivitas-aktivitas yang menyebabkan biaya seperti itu dapat meliputi pemasaran, periklanan, riset, dan pengembangan, rekayasa produk, dan klaim garansi. Biaya tambahan akan sekadar ditelusuri ke masing- masing produk dan ditambahkan ke biaya pabrikasi guna menentukan jumlah biaya produk. Pada dasarnya, biaya administratif dan pemasaran tidak dimasukan ke dalam biaya produk karena persyaratan pelaporan keuangan menurut prinsip akuntansi yang berlaku di Indonesia bahwa biaya tersebut dimasukkan sebagai biaya periode.

C.     Beban dan waktu yang dikonsumsi.

Sistem Activity based costing sangat mahal untuk dikembangkan dan diimplementasikan. Sistem ini juga sangat memakan waktu. Sebagaimana sebagian besar sistem akuntansi dan manajemen yang inovatif lainnya, sistem Activity based costing memakan waktu lebih dari satu tahun untuk dikembangkan dan diterapkan secara berhasil.

Manfaat Activity Based Costing (ABC)

  1. ABC menyajikan biaya produk yang lebih akurat dan informative, yangmenuju pada pengukuran kemampuan perolehan laba atas produk yang lebihakurat dan keputusan-keputusan strategis yang diinformasikan dengan lebihbaik mengenai harga jual, lini produk, pasar pelanggan dan pengeluaranmodal.
  2. ABC memberikan pengukuran yang lebih akurat atas biaya-biaya pemacuaktivitas, yang membantu manajer memperbaiki produk dan proses menilaidengan membuat keputusan desain produk yang lebih baik, pengendalianbiaya yang lebih baik dan membantu mempertinggi berbagai nilai objek.
  3. ABC membantu manajer lebih mudah mengakses informasi tentang biaya-biaya yang relevan dalam membuat keputusan bisnis.

Perbedaan Sistem Tradisional dan Sistem Activity Based Costing (ABC)

Sistem Tradisional

Sistem Activity Based Costing (ABC)

Biaya tradisional mengalokasikan biaya overhead secara arbitrer berdasarkan satu atau dua basis alokasi yang non representatif

 

Sistem ABC menggunakan aktivitas-aktivitas sebagai pemacu biaya (cost driver) untuk menentukan seberapa besar konsumsi overhead dari setiap produk

 

Sistem biaya tradisional terfokus pada performansi keuangan jangka pendek seperti laba. Apabila sistem biaya tradisional digunakan untuk penentuan harga dan profibititas produk, angka-angkanya tidak dapat diandalkan

 

Sistem ABC mefokuskan pada biaya, mutu, dan faktor waktu. Sistem ABC memerlukan masukan dari seluruh departemen persyaratan ini mengarah ke integrasi organisasi yang lebih baik dan memberikan suatu pandangan fungsional silang mengenai organisasi.

 

Pada sistem biaya tradisonal penentuan tarif suatu produk berdasar aktivitas level unit (bahan baku dan tenaga kerja). Sistem biaya tradisional mengutamakan satu atau dua pemacu biaya yang berbasis unit sebagai pembebanan biaya sehingga menciptakan biaya produk yang terdistori. Distori yang terjadi berupa subsidi silang (crosssubsidy) antar produk, satu produk mengalami kelebihan biaya (overcosting) dan produk lainnya mengalami kekurangan biaya (undercosting). Tingkat distori yang terjadi terganting pada proporsisi biaya overhead terhadap biaya produk total. Semakin besar proporsisinya, semakin besar distorsi yang terjadi demikian juga sebaliknya. Hal inilah yang melandasi dikembangkannya sistem biaya Activity Based Costing

 

ABC sistem pembebanan biaya overhead berdasarkan aktivitas berlevel unit maupun non unit sehingga penentuan biaya lebih akurat karena ditelusuri ke masing-masing produk. Sistem ABC mempunyai kebutuhan yang jauh lebih kecil dianalisis varian dari pada sistem tradisional, karena kelompok biaya (cost pools) dan pemacu biaya (cost driver) jauh lebih akurat dan jelas, selain itu ABC dapat menggunakan data biaya historis pada akhir periode untuk menghilang biaya aktual apabila kebutuhan muncul

 

 

Contoh Soal

PT Santosa Jaya Tbk adalah perusahaan yang menghasilkan dan menjual produk dalam 2 jenis yang berbeda yaitu jenis AB dan BC. Data keuangan yang terhimpun untuk kedua jenis produk tersebut adalah sebagai berikut:

 

Keterangan

Produk

AB

BC

Volume Prouksi (unit)

5.000

20.000

Harga Jual (Rp)

6.000

3.000

Biaya Utama (Rp)

3.000

1.500

Jam Kerja Langsung

2.500

5.000

Diminta

  1. Hitunglah biaya per unit produk AB dan BC dengan sistem tradisional
  2. Hitunglah biaya per unit produk AB dan bc dengan sistem ABC

Dan akuntan manajemen mengidentifikasi aktivitas cost pool yang dianggarkan dan aktivitas sebagai berikut:

Aktivitas

Anggaran Cost Pool

Aktivitas

Rekayasa

150.000

Jam

Setup

500.000

Jam

Perputaran Mesin

1.500.000

Jam

Pengemasan

100.000

Jumlah

Dan berikut ini aktivitas yang sesungguhnya untuk kedua jenis produk:

Aktivitas

Konsumsi/ Realisasi

Total

AB

BC

Rekayasa

6.000

9.000

15.000

Setup

400

600

1.000

Perputaran Mesin

50.000

100.000

150.000

Pengemasan

5.000

20.000

25.000

Jawab :

1. Sistem Tradisional

Total Jam Kerja Langsung ( JKL )= 2.500 + 5.000 = 7.500

Tarif overhead / JKL = Rp2.250.000 / 7.500 = Rp300 / JKL

Biaya Overhead yang dibebankan ke :

Produk

Total

Unit

Overhead/ unit

AB

Rp300 x 2.500 = Rp750.000

5.000

Rp 150

BC

Rp300 x 5.000 = Rp1.500.000

20.000

Rp 75

3.       Sistem ABC ( Activity Based Costing )

Produk

Total Biaya

Konsumsi Aktivitas

Tarif Aktivitas

Rekayasa

150.000

15.000

Rp10

Setup

500.000

1.000

Rp500

Perputaran Mesin

1.500.000

150.000

Rp10

Pengemasan

100.000

25.000

Rp4

 

Biaya Overhead yang dibebankan ke masing – masing produk sebagai berikut :

A. Produk AB

Aktivitas

Tarif

Jumlah

BO Total

BO/ unit

Rekayasa

Rp 10

6.000

60.000

Rp 10

Setup

Rp 500

400

200.000

Rp 500

Perputaran mesin

Rp 10

50.000

500.000

Rp 10

Pengemasan

Rp 4

5.000

20.000

Rp 4

780.000

B. Produk BC

Aktivitas

Tarif

Jumlah

BO Total

BO/ unit

Rekayasa

Rp 10

9.000

90.000

Rp 10

Setup

Rp 500

600

300.000

Rp 500

Perputaran mesin

Rp 10

10.000

1.000.000

Rp 10

Pengemasan

Rp 4

20.000

80.000

Rp 4

1.470.000

Rp 524

 

Menghitung biaya per unit menggunakan metode tradisional:

Keterangan

Produk AB

Produk BC

Biaya Utama

15.000.000

30.000.000

Biaya Overhead

1.500.000

6.000.000

Total Biaya

16.500.000

36.000.000

Unit diproduksi

5.000

20.000

Biaya/ Unit

3.300

1.800

Menghitung biaya per unit menggunakan metode ABC :

Keterangan

Produk AB

Produk BC

Biaya Utama

15.000.000

30.000.000

 

 

 

Biaya Overhead

2.620.000

10.480.000

Total Biaya

17.620.000

40.480.000

Unit diproduksi

5.000

20.000

Biaya/ Unit

3.524

2.024

 


Comments

Popular posts from this blog

Perhitungan Biaya Absorpsi dan Biaya Variabel, serta Manajemen Persediaan

PIUTANG